Hijau Dan Biru
mungkin melihat warna hijau itu tidak ada apa-apa maknanya bagi kita. ya... ada apa bedanya hijau, kuning, biru, merah dan jingga?
semuanya warna.
begitu juga bila kita mendengar deru angin, mendengar bunyi teriak anak-anak kecil yang bingit, dengar titik hujan jatuh berderau, dengar suara emak menengkin kerna nakal. bunyi hon kereta dan bunyi radio usang di atas meja. semuanya indah seindah hijau dan biru.
kemudian kita dapat menyentuh "rat" alias tikus komputer, menyuap cendol guna sudu ke mulut. membaling batu ke tingkap tika memecah masuk mencuri wang. menyepak anjing di jalanan bersama teman.
lalu kita alpa. kita kelumpanan (terlupa) bahawa kita diberi nikmat. pada satu saat Gusti Agung menagih apa yang Dia berikan kepada kita. lalu hijau telah tercabut dari daun. kemudian biru juga telah hilang dari awan, lantas merah, jingga, kelabu. dan akhirnya mata ini tidak dapat melihat lagi - kelam.
kemudian tangan kita yang suka menconteng itu sakit urat-uratnya. kadang lengoh dan diurut. setahun, dua tahun dan akhirnya tangan yang gagah itu, yang sebelum ini bisa menempeleng bini menggeletar macam tiada daya lagi. lalu tahun berikutnya kaku tidak bergerak.
"kita hanya mengerti bila kita telah dewasa" dan kedewasaan itu bisa menyebabkan kita tidak sempat kembali berpusing. dan "kita hanya menyanyangi bila ia telah tiada" dan sayangnya bila kita terasa kehilangannya pada saat itu kita sudah tidak bisa untuk memilikinya kembali.
melihat manusia yang Gusti Agung kurangkan nikmatnya, bukan untuk berkata: "Kesihan"! tidak cukup itu! bukan sekadar menderma sekupang dua! tetapi yang lebih utama ialah kita memikirkan bahawa anak kecil yang tiada tangan itu itu mungkin kita? lelaki tua yang termanggu di kerusi itu apakah kita di saat tua nanti? remaja yang kepalanya membengkak sebesar raga itu boleh jadi kita?
dan kesyukuran itu wajib bila kita berkata: "Syukur kerna Gusti Agung tidak menjadikan aku sedemikian rupa"
tetapi selalunya kita tidak pernah ambil pusing perkara semacam ini - katanya hal-hal simple.
catatan:
[posted Sunday, 30 May 2004]

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home